/** **/

Sukses

Seniman Arab Saudi: Kami Sama dengan Wanita Lainnya di Dunia

Liputan6.com, Jeddah- Wanita di wilayah Timur Tengah pada umumnya dipandang berbeda dengan wanita di belahan dunia lainnya. Mereka biasa digambarkan sebagai sosok yang mengenakan burka atau jilbab dan 'sangat primitif' terhadap pandangan non-Islam.

Seorang seniman asal Jedah, Arab Saudi bernama Sarah Taibah mempunyai persepsinya sendiri tentang kaum hawa di negaranya.

Lewat karya seninya, ia berharap seisi dunia mengerti bahwa wanita di negaranya tidak jauh berbeda dengan wanita-wanita lainnya, baik yang berada di negara Muslim lainnya maupun yang di negara-negara Barat.

Ia memberitahukan bahwa wanita di Arab Saudi sama dengan wanita lainnya di seluruh dunia.

“Kita wanita semua sama. Sama-sama berjuang, berhasil dan tumbuh,” jelasnya.

Ia kemudian menceritakan bahwa pengalaman Idul Fitri yang paling melekat untuknya justru perayaan yang ia lakukan di San Fransisco bersama saudara laki-lakinya.

“Hari Raya Idul Fitri tahun 2014 merupakan kenangan terbaikku. Pada saat itu, hubungan saya dengan saudara laki saya entah mengapa jauh jadi lebih baik dari sebelumnya. Saya pun jadi lebih menikmati hari raya tersebut,” kata Sarah.

Melansir dari Huffington Post, wanita pemilik perusahaan ilustrasi dan desain bertajuk ‘Rasma dan Kilma’ ini menghabiskan waktunya menciptakan karya seni yang kemudian dijadikan content atau isi buku-buku yang ia jual. Selain itu, ia juga menikmati seni fotografi dan kerap kali menunjukan hasil karyanya itu lewat akun resmi instagramnya, @rasma.kilma.

“Setiap proses pembuatan karya seni saya nikmati karena itu merupakan sebuah petualangan bagi saya,” katanya kepada Huffington Post.

Sarah mendapatkan gelar sarjananya untuk jurusan desain grafis di Saudi Arabian University. Tidak lama setelah meraup gelar tersebut, dirinya memutuskan untuk menimba ilmu lebih lanjut soal seni ilustrasi dan percetakan di San Francisco, California, Amerika Serikat.

Petualangan Sarah menyambangi negeri Paman Sam membuat ia bertanya-tanya akan identitas dirinya dan juga soal kenyamanannya sebagai seorang wanita.

“Semuanya berawal saat saya merasa berbeda dengan wanita di Arab Saudi lainnya. Saya pada saat itu mengira solusinya adalah untuk saya pergi. Namun, saya tidak merasa saya menemukan diri saya di Amerika Serikat saat saya menyambanginya. Saya kemudian sadar bahwa diri saya selalu bersama saya kemana saja saya pergi,” tuturnya.