Sukses

Uniknya Budaya Ramadan di Tunisia

Liputan6.com, Jakarta - Bulan suci tak hanya dinyatakan sebagai salah satu ibadah agama tapi juga sebagai pemanjaan di Tunisia, ucap chef asal Tunisia Wafik Belaid.

"Negara ini bersiap untuk menyambut Ramadan selama beberapa hari dan minggu sebelum acara sebenarnya, karena roti membuat bagian khusus untuk permen dan makanan tradisional sehingga orang-orang mengantre di supermarket untuk persediaan makanan," kata Belaid.

Dilansir dari Gulfnews.com, seperti di tempat lain, di Tunisia pun ini adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan teman.

"Di bulan Ramadan, kita terbiasa menghadiri acara budaya dan hanya menghirup kopi Arab atau pipa air asap di kebun binatang lama di Tunisia, ada pula yang mengunjungi tetangga dan kerabat untuk mengobrol, menukar permen atau menonton acara TV favorit mereka."

Belaid juga bercerita tentang Boutbila, pria yang tugasnya membangunkan orang untuk makan sahur. Mirip dengan Mesaharaty di Mesir, Boutbila akan menyeberang melalui lingkungan sekitar, memanggil orang-orang dari jalanan.

Tradisi ini telah dihidupkan kembali dalam beberapa tahun terakhir, Belaid mengatakan, "Sekarang Boutbila tidak hanya memanggil orang untuk sahur, tapi dia secara pribadi mendistribusikan sahur itu sendiri.

Ritual pribadinya adalah mengikuti kewajiban untuk bermurah hati dan berbagi. "Bagi saya tradisi saat ini adalah menjadi anggota aktif dalam asosiasi amal yang mengkhususkan diri dalam mempersiapkan berbuka puasa dan sahur untuk yang membutuhkan," katanya.

Artikel Selanjutnya
Seminggu di Kota Probolinggo, Kenalkan Wisata Budaya Lokal
Artikel Selanjutnya
Hadirkan Suasana Mataraman di Halal Bihalal Punggowo di Batam