Sukses

Mengapa Allah SWT Merahasiakan Malam Lailatul Qadar?

Liputan6.com, Jakarta Bulan Ramadan sudah mencapai 10 hari terakhir. Di hari-hari terakhir Ramadan ini, ada satu yang dinanti Umat Islam. Yakni datangnya Malam Lailatul Qadar atau Malam Seribu Bulan.

Memang di 10 hari terakhir, Nabi Muhammad SAW menekankan kepada umatnya untuk menghidupi malam hari selama Ramadan dengan memperbanyak ibadah.

Madzhab Syafi’i, melansir laman Islami.co, menjelaskan apa yang dilakukan Nabi Muhammad pada 10 malam terakhir di Ramadan.



Syaikh Mulla Ali al-Qari terkait hadits HR Muslim menyatakan, pendapat yang paling jelas (unggul), bahwa Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam menambahkan aktivitas ibadah dan kepatuhan kepada Allah SWT, tidak seperti hari-hari lainnya. Ini karena beliau mengharapkan datangnya lailatul qadar, meraup maksimal keberkahan waktu-waktu tersebut, atau mengakhiri Ramadan dengan baik.” (Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih)

Lailatul qadar merupakan malam paling utama dari sekian waktu yang lain selama satu tahun, istimewa hanya untuk Umat Muhammad SAW (min khusushiyyai hadzihi al-Umat).

Akan tetapi, tiada yang tahu kapan datangnya Malam Lailatul Qadar. Tanda-tanda lailatul qadar sebagaimana petunjuk hadits Nabi, baru diketahui saat siang harinya, yaitu matahari terbit tidak tampak banyak memancarkan sinar.

Di akhirkan tanda-tanda lailatul qadar menunjukan agar setiap saat di malam hari Ramadan hendaknya bersungguh-sungguh, dengan tidak menurunkan tensi ibadah. (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal)

Setiap malam di sepanjang bulan Ramadan, terlebih 10 hari terakhir, hendaknya Umat Islam berhusnu zhan sebagai lailatul qadar.

Menurut sebagian pendapat yang dikutip al-Qurthubi, Allah menyamarkan lailatul qadar di sepanjang bulan Ramadan, agar umat Muhammad giat beribadah di setiap malam bulan Ramadan, dengan mengharapkan lailatul qadar.

Sebagaimana Allah menyamarkan “Shalat al-Wustha” di antara shalat 5 waktu, Asma’ Mu’azham di antara sekian Asma-asma Nya, dan waktu paling ampuh dikabulkannya do’a di antara satu kali 24 jam pada hari jum’at. (Al-Qurthubi, Tafsir al Qurthubi).

Semoga di penghujung bulan Ramadan ini kita diberi pertolongan untuk semakin  giat beribadah, bersedekah, mengaji, belajar agama dan berbagai kebaikan lainnya, dengan harapan qadar kali ini terjadi di saat-saat akhir Ramadan.

Bilapun belum ditakdirkan menemui, paling tidak kita sudah mengikuti anjuran Nabi untuk meningkatkan tensi beribadah di 10 terakhir Ramadan.

Wallahu a’lam

* Artikel ini sebelumnya tayang di Islami.co yang ditulis oleh M. Mubasysyarum Bih Ridlwan

Artikel Selanjutnya
Kabar Opick Digugat Cerai, Begini Curhat Sang Istri
Artikel Selanjutnya
Cerita Lafaz Allah di Kening Bayi Tampan Cilacap