Sukses

Bukan Opor, Makanan Wajib Warga Desa di Bangkalan Saat Lebaran

Liputan6.com, Bangkalan - Hari raya Idul Fitri identik dengan makan besar, mulai dari ketupat, ayam goreng, opor ayam, semur daging, sate hingga ikan bakar. Tapi tidak begitu dengan warga Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, khususnya warga yang tinggal di pedesaan.

Mereka punya tradisi khusus saat lebaran yaitu hanya masak satu menu yang disebut kuah adun. Tradisi ini dijumpai di beberapa desa di Kecamatan Socah, seperti Desa Jaddih, Parseh dan Sanggra Agung serta di Desa Langkap, Kecamatan Burneh.

Apa istimewanya hidangan ini? Secara visual, kuah adun agak mirip opor ayam, daging ayam yang dimasak dengan kuah santan kekuningan. Bedanya terletak pada warna kuahnya. Jika kuah opor ayam cenderung encer dan warnanya kuning pudar, kuah adun berwarna kuning kemerahan dan lebih kental.

Lalu, lauk ayam pada kuah adun bukan ayam potong seperti umumnya opor ayam, tetapi ayam kampung yang dipanggang lebih dahulu. Selain ayam kampung, lauk kuah adun juga bisa diganti bebek panggang serta telur rebus bukat yang digoreng.

Sa'diyah (29), wanita kelahiran Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, sudah sembilan tahun menetap di Desa Jaddih, Socah, Bangkalan ikut suaminya. Dia mengaku selama menetap di Jaddih, kuah adun adalah menu wajib tiap lebaran.

"Nggak masak yang lain, cuma kuah adun saja," kata dia, Senin, 26 Juni 2017.

Cara makan kuah adun juga unik, umumnya cara makan lauk berkuah yaitu nasi dalam piring disiram kuah berikut lauknya, diaduk baru dimakan. Namun berbeda dengan kuah adun. Nasi dan kuahnya dihidangkan terpisah.

Sebelum dimakan, nasi dikepal dulu dengan tangan hingga berbentuk lonjong seperti telur. Setelah berbentuk, nasi bulat dicocol layaknya bersantap rujak ke kuah adun baru dimasukkan ke mulut, diikuti cubitan lauk ayam kampung atau bebeknya.

"Sejak saya tahu yang namanya kuah adun, rata-rata warga cara makannya begitu," tutur Sa'diyah.

Tak hanya lezat dan nikmat, kuah adun juga awet. Makanan itu bisa tahan hingga tiga hari tak basi. Dengan catatan, sisa kuah adun yang tak dihabiskan tak boleh dituang lagi dalam panci untuk dihangatkan dan setiap selesai makan kuah adun langsung dihangatkan.

"Sekali masak, kuah adun bisa untuk makan tiga hari," kata Sa'diyah.

Abdul Razak, warga Desa Parseh Bangkalan menuturkan, baginya kuah adun paling nikmat bukanlah yang baru selesai dimasak. Dia mengakui lebih suka makan kuah adun setelah dua hari pasca-dimasak.

"Kuahnya jadi lebih kental, jadi bumbunya lebih terasa, nikmat banget," tutur pria paruh baya ini.

Menurut Razak, tidak semua ayam kampung dan bebek layak dijadikan lauk kuah adun. Ayam dan bebek yang digunakan biasa yang masih muda agar tekstur dagingnya tidak alot.

"Kalau ayamnya udah berumur, dagingnya alot," katanya.

Artikel Selanjutnya
Libur Panjang Idul Adha, Pemilik Warung Satai Klatak Pilih Tutup
Artikel Selanjutnya
Tradisi Toron Bikin Arus Jembatan Suramadu Padat Saat Idul Adha